World TB DAY 2022: Investasi untuk eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa ”Satukan Tekad, Perkuat Inovasi untuk Eliminasi TBC”

oleh : Fitria Fahmawati (Program Officer POP TB Indonesia)

Tuberculosis merupakan salah satu penyakit menular yang maasih menjadi concern dunia saat ini. Termasuk Negara Indonesia, Penyakit yang berasal dari Mycobaterium Tubeculosis ini bisa disembuhkan namun juga banyak merenggut korban jiwa bila tidak segera dilakukan pertolongan dengan pengobatan. Menurut WHO tiap tahun nya dunia dikejutkan dengan angka fantastis yang harus segera dituntaskan penyelesaian nya. Diperkirakan setiap tahun nya 10 juta orang terinfeksi TBC hal ini dibarengi  dengan angka yang tidak bisa diselamatkan hidupnya karena TBC yaitu 1.5 Juta jiwa tiap tahun nya. Tanpa sadar TBC merupakan salah satu penyakit menular mematikan teratas di dunia.

Indonesia sebagai salah satu Negara G20 yang mengandung beban kasus terbanyak ke 3 di dunia menyusun rencana stategis nasional untuk penganggulangan kasus TB di Indonesia, hal ini sejalan dengan upaya eliminasi TB di dunia. Terdapat enam prioritas masalah tuberkulosis di Indonesia yang dikelompokkan berdasarkan tahapan layanan kesehatan yang berkesinambungan yaitu sebagai berikut:

  1. Orang yang terdiagnosis Tuberkulosis tetapi tidak memulai pengobatan;
  2. Orang dengan gejala Tuberkulosis yang tidak mencari pengobatan;
  3. Orang dengan Tuberkulosis yang datang ke fasilitas kesehatan tetapi tidak didiagnosis;
  4. Orang yang terdiagnosis Tuberkulosis dan diobati oleh pemberi layanan kesehatan tetapi tidak dilaporkan pada program;
  5. Orang dengan pengobatan Tuberkulosis yang terlaporkan tetapi tidak sembuh atau tidak menyelesaikan pengobatannya;
  6. Orang yang terinfeksi Tuberkulosis atau berisiko tinggi menjadi sakit Tuberkulosis.

Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan insidensi kasus tuberkulosis menjadi 65 per 100.000 penduduk pada tahun 2030. Upaya penanggulangan tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2024 diarahkan untuk mempercepat upaya Indonesia untuk mencapai eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030, serta mengakhiri epidemi tuberkulosis di tahun 2050. Secara khusus, penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2024 bertujuan untuk:

  1. Memperkuat manajemen program penanggulangan tuberkulosis yang responsif mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, kota dan fasyankes.
  2. Meningkatkan kualitas pelayanan tuberkulosis yang berpusat kepada kebutuhan masyarakat
  3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan tuberkulosis
  4. Meningkatkan kebutuhan dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penanggulangan tuberculosis

Masalah TB tidak hanya menyangkut aspek kesehatan saja namun ada beberapa masalah ikutan yang menjadi dampak dari tinggi nya beban kasus yang dialami seperti masalah psiko-sosial, stigma dan diskriminasi masyarakat terkait belum mampunya menerima eksistensi penyakit, masalah ekonomi yang timbul menyebab kan perlunya kerjasama baik dari pemerintah pusat, daerah, komunitas maupun masyarakat umum untuk menggerakan tekad agar beban besar ini sedik demi sedikit mengerucut dan terurai. Selanjutnya, dalam rangka menentukan intervensi terhadap prioritas masalah, maka

Berikut terankum enam strategi nasional untuk penanggulangan eliminasi kasus TBC di Indonesia periode tahun 2020-2024:

  • Strategi 1. Penguatan komitmen dan kepemimpinan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota untuk mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis 2030.
  • Strategi 2. Peningkatan akses layanan tuberkulosis bermutu dan berpihak pada pasien.
  • Strategi 3. Optimalisasi upaya promosi dan pencegahan, pemberian pengobatan pencegahan tuberkulosis serta pengendalian infeksi.
  • Strategi 4. Pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining, diagnosis, dan tatalaksana Tuberkulosis.
  • Strategi 5. Peningkatan peran serta komunitas, mitra, dan multisektor lainnya dalam eliminasi tuberkulosis.
  • Strategi 6. Penguatan manajemen program melalui penguatan sistem kesehatan.

Dalam era digital seperti saat ini, strategi tersebut bisa dibarengi dengan inovasi kemudahan digitalisasi baik dalam proses preventif maupun kuratif kepada populasi kunci. Misal melalui aplikasi digital, masyarakat sudah bisa mengakses baik itu literasi terkait TBC, akses dalam pengobatan,pemantauan ataupun dampak psiko social ekonomi yang tengah dihadapi. Disamping itu inovasi ini memudahkan pemerintah untuk menentukan alokasi dari sebaran cakupan baik itu kebijakan maupun investasi terkait eliminasi TB di Indonesia.  Dari seluruh stategi dan penguatan inovasi tersebut negara harus mengalokasikan dana sebagai investasi untuk menyelamatkan bangsa dari kenaikan kasus yang sewaktu-waktu akan terus meningkat jika tidak direspon dengan serius.

Hadirnya pemerintah dalam penanggulangan eliminasi TB tentu membuat gerak dari luar untuk mengikuti uluran tangan nya baik swasta dalam bentuk dukungan CSR, donor luar mapun masyarakat umum yang mulai teredukasi dengan pentingnya penanggulangan dan pencegahan penyakit TB ini. Upaya pemerintah akan terasa menjadi berat dengan beban dampak pandemic covid yang masih berlangsung hingga tahun ini. Namun, hal ini dapat kita hadapi bersama dengan kerja sama yang baik dari semua sector yang terlibat. Eliminasi TB 2030, delapan tahun kedepan jargon itu terus terngiang di setiap kepala kita, seolah seperti janji yang akankah dapat ditepati? We need to invest now if want to #EndTB by 2030, and save lives.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top