Pertemuan Koordinasi Organisasi Pasien TBC Dengan Pasien TB RO

 artikel oleh : Fitria Fahmawati (Program Officer POP TB Indonesia)

POP TB Indonesia – Mengapa kita perlu memperhatikan pasien TB?

Indonesia menduduki 3 besar dengan beban kasus TBC terbanyak di dunia, Penyakit TBC pengobatanya pun memerlukan jangka waktu yang lama pada pasien TB RO (Tuberculosis Resisten Obat) masa pengobatan mencapai 2 tahun dan ketika seorang pasien terlupa mengkonsumsi obat atau putus pengobatannya maka proses konsumsi obat harus kembali mengulang atau memulai lagi dari awal, belum lagi dengan masalah lanjutan adanya efek samping dari pengobatan TB tersebut.

Mengingat masa sulit, dimana ibu pertiwi masih dalam balutan duka pandemic covid 19 yang belum usai ditambah dengan beban kesehatan penyakit lama yaitu TBC yang masih jadi pekerjaan rumah bagi negeri kita, Indonesia. POP TB (Perhimpunan Organisasi Pasien Tuberkulosis) Indonesia hadir  menjadi bagian dari solusi terhadap masalah yang tengah dihadapi. Menurut Global TB Report 2021 sekitar 393,323 orang terinfeksi kasus TB dan 13,110 orang meninggal akibat penyakit TB. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan upaya penangan yang komprehensif untuk mencapai eliminasi TB 2030. POP TB Indonesia mengambil sebagian peran dalam upaya capaian tersebut. Melalui peran Organisasi Penyintas TB (OPT) di 7 Provinsi  Indonesia yaitu Riau, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten, POP TB dengan melibatkan OPT  melakukan kegiatan Pertemuan koordinasi organisasi pasien TBC dengan pasien di RS PMDT (Programmatic Management of Drug Resistant Tuberculosis) di 12 RS.

Kegiatan rutin yang diagendakan per quartal ini terlaksana pada periode tanggal 07-21 Maret 2022. Kegiatan berupa Focus Group Discusion yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antara jaringan Organisasi Penyintas TB (OPT) dan pasien TB. Kegiatan FGD ini pun berperan sebagai wadah bagi pasien TB untuk tempat berbagi baik sharing pengalaman antar sesama pasien ataupun motivasi sembuh dari para penyintas. Tak ayal, kegiatan ini mendapat respon yang sangat besar dari para pasien TB. Mereka sangat antusias dengan adanya kegiatan ini sebagian pasien berharap kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan nya. Berikut penuturan pasien dari Kota Tangerang, Banten  pada lembar penilaian acara kegiatan.

Semoga lebih sering diadakan acara seperti ini. Karena saya sebagai pasien merasa memiliki tempat untuk berbagi dan berdiskusi. Dan tentunya akan membuat saya dan pasien lainnya semakin termotivasi untuk sembuh”

Pasien merasa termotivasi dan merasa tidak sendiri (adanya pendampingan dan penguatan) baik dari sesama pasien maupun komunitas penyintas yang terlibat pada kegiatan ini, berikut penuturan dari Pasien TB di Surakarta, Jawa Tengah.

“ dengan saling sharing sesama pasien, bisa nambah semangat untuk sembuh, memantapkan jiwa bahwa kita ga sendiri”.

 

Adalah benar mereka bagian dari miliaran penduduk Indonesia yang memiliki hak yang sama dengan mereka yang sehat, kesempatan dan penerimaan (eksistensi) mereka sebagai pasien TB seharusnya menjadi jaminan tidak hanya darii negara namun dari kita sebagai masyarakat dengan sosial budaya yang kita emban. Haruskah mereka sendirian menghadapi beban yang mereka pikul? Mari menjadi bagian dari masyarakat yang peduli  dalam mendukung upaya pemerintah dalam Eliminasi TB ,End TB 2030, salam sehat.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top