POP TB Indonesia

Dari Komunitas untuk Menemukan Kasus TB Lebih Dini

Dari Komunitas untuk Menemukan Kasus TB Lebih Dini

Ketika seseorang mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh, perjalanan menuju diagnosis tuberculosis (TB) seharusnya tidak menjadi perjalanan yang panjang dan penuh hambatan. namun sering kali dibiarkan begitu saja, karena jalan menuju diagnosis TB tidak selalu terbentang lurus. Bagi sebagian masyarakat, jalan itu berkelok: terhalang minimnya informasi, jauhnya fasilitas kesehatan, dan bayang-bayang stigma yang lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.

Di titik itulah komunitas mengambil perannya, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai jembatan. Jembatan yang mendekatkan layanan kepada masyarakat, dan memastikan tidak ada satupun yang tertinggal.

 

Sebuah Perjalanan yang Dimulai dari Keberpihakan

Melalui proyek Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FC-SDS), POP TB Indonesia mulai melangkah sejak 2025, dan sejak Maret 2026 hadir secara resmi sebagai Sub-Implementing Partner (SIP) dari Stop TB Partnership Indonesia (STPI). Tujuannya sederhana namun tidak mudah, yakni memperkuat hubungan antara fasilitas pelayanan kesehatan dan komunitas, agar penemuan kasus TB dapat dilakukan lebih aktif, dan mutu layanan TB Resisten Obat (TB RO) terus meningkat.

.

FC-SDS berfokus pada kaskade penemuan hingga pendampingan kasus TB melalui pendekatan berbasis fasilitas kesehatan dan komunitas. Intervensi dalam proyek ini antara lain termasuk investigasi kontak, community outreach, skrining sistematis, penemuan terduga, dukungan diagnostik, enrollment pengobatan dan pencegahan TB, pendampingan dan monitoring pasien, dukungan nutrisi, serta dukungan tata kelola program kepada fasilitas kesehatan dan pemangku kebijakan kabupaten/kota. Kami bergerak dalam 2 provinsi di 5 District yaitu Cirebon, Indramayu, Kuningan dan Majalengka untuk Jawa Barat dan Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Bagi POP TB Indonesia, keterlibatan dalam FC-SDS bukan sekadar menjalankan sebuah proyek. Ini merupakan bagian dari perjalanan untuk membuktikan bahwa komunitas dapat menjadi penggerak penting dalam menemukan, menghubungkan, dan mendampingi masyarakat menuju layanan TB.

 

\

pict 1 : Pak Faisol (Koordinator Lapangan sekaligus Penyintas TBRO OPT Sekawan Jember sedang melakukan edukasi TB dan kriteria peserta kepada Peserta SSTB di Desa Paleran Kabupaten Jember, Jawa Timur

 

Membawa Upaya Penemuan TB Lebih Dekat kepada Masyarakat

Penemuan kasus TB tidak selalu dimulai dari ruang pemeriksaan di fasilitas kesehatan, terkadang, langkah pertama justru lahir jauh sebelum itu, bisa saja di teras rumah, di warung kopi, di antara obrolan tetangga, namun ketika seseorang di lingkungan masyarakat mengenali gejala, mendapatkan informasi yang benar, kemudian berani mencari pertolongan.

Melalui FC-SDS, POP TB Indonesia bersama tim lapangan, kader, komunitas, dan fasilitas kesehatan berupaya membawa proses tersebut lebih dekat kepada masyarakat.

Pendekatan community-based service delivery menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan kegiatan. Tim lapangan tidak hanya berfokus pada pencapaian target, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat, memberikan edukasi mengenai TB, melakukan penjaringan sasaran, serta membantu masyarakat terhubung dengan layanan kesehatan.

Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi sasaran kegiatan, tetapi menjadi bagian dari proses menemukan dan memutus rantai penularan TB.

 

pict. 2  : Mobile X-RAY pada kegiatan SSTB di Desa Cilandak, Indramayu Jawa Barat

 

Menemukan yang Selama Ini Belum Terjangkau

Salah satu kegiatan utama yang didukung POP TB Indonesia dalam FC-SDS adalah Skrining Sistematis TB (SSTB).  SSTB dilakukan untuk menemukan secara lebih aktif orang-orang yang berpotensi mengalami TB . Dari masyarakat yang dijangkau, mereka yang memenuhi kriteria skrining kemudian diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut sesuai dengan standar pelayanan. Dari April-Juli 2026 telah dilakukan 74.433 orang dilakukan skrining X-Ray dengan total penemuan kasus TB 1.859 dan pemberian inisiasi TPT kepada 877 orang di 5 distrik.  Di lapangan, proses ini tidak selalu sederhana. Tim harus membangun kepercayaan masyarakat, menjelaskan bahwa TB dapat disembuhkan, meluruskan berbagai informasi yang keliru, serta meyakinkan masyarakat bahwa melakukan pemeriksaan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

Di sinilah pengalaman POP TB Indonesia sebagai organisasi penyintas TB menjadi penting.

”Pesan yang disampaikan kepada masyarakat bukan hanya berasal dari buku atau modul. Pesan tersebut juga lahir dari pengalaman orang-orang yang pernah menjalani perjalanan TB dan memahami bagaimana rasanya menghadapi diagnosis, pengobatan, stigma, maupun kekhawatiran dari lingkungan sekitar,” ujar Program Coordinator POP TB Indonesia, Fitria Fahmawati pada Kamis, 13 Agustus 2026.

 

Dari Penemuan Kasus Menuju Perubahan

FC-SDS tidak hanya bertujuan menemukan lebih banyak kasus TB, tetapi memastikan setiap orang yang ditemukan dapat memperoleh layanan yang sesuai baik diagnosis, pengobatan atau TPT sesuai indikasi, dukungan, dan pendampingan hingga menyelesaikan pengobatan. Pengalaman di Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka, dan Jember menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat kolaborasi antara komunitas, fasilitas kesehatan, pasien, dan pemangku kepentingan. Menariknya proses penemuan kasus ini punya cerita sendiri, salah satunya adalah Cerita dari Kabupaten Kuningan  adanya sasaran yang kami undang pada saat SSTB merupakan orang dengan “good educated” pada saat sasaran tersebut terdiagnosis TB klinis dari hasil rontgen dan tinjauan klinis dokter memutuskan untuk melakukan pengobatan namun pihak keluarga (salah satu anggota keluarga dokter) tidak menerima hasil dari SSTB ini dan melakukan penolakan. Disinilah peran tim manajemen (komunitas penyintas) di lapangan berkolaborasi dengan petugas kesehatan setempat menjadi garda terdepan melakukan edukasi kepada pihak keluarga yang bisa dikatakan sudah memiliki pemahaman utuh dan baik terkait tuberkulosis. sampai akhirnya orang dengan TB dari sasaran tersebut didampingi untuk memulai pengobatan tanpa adanya tekanan dari pihak manapun bahkan pihak terdekat (keluarga)  yang seharusnya menjadi pelindung.

Komunitas adalah Bagian dari Solusi

Pengalaman POP TB Indonesia dalam FC-SDS yang masih berlangsung  menunjukkan bahwa keberhasilan penanggulangan TBC membutuhkan kepercayaan masyarakat, keterlibatan komunitas, pengalaman pasien, dan kolaborasi lintas pihak. Ketika komunitas diberi ruang dan kapasitas untuk berperan, mereka dapat menjadi penghubung penting yang membawa layanan lebih dekat kepada masyarakat.

Setiap kasus yang ditemukan bukan sekadar angka, tetapi satu kehidupan yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan diagnosis, pengobatan, dan masa depan yang lebih baik.

 “Dokumen ini diproduksi dengan dukungan finansial dari U.S Government.

Isi dokumen menjadi tanggung jawab Stop TB Partnership/UNOPS dan tidak serta-merta mencerminkan pandangan U.S Government”

Scroll to Top